
Sejak kedatanganku pertama kali di Aljazair, nama Sahabat Uqbah Bin Nafi’ selalu terngiang. Informasi ada makam sahabat nabi di negeri ini tak hanya kami dengar dari para lokal staf, tetapi juga dari para ulama NU yang pernah berkunjung ke negeri ini. Yang terakhir saat kunjungan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj pada 5 Maret lalu. Meski beliau tak sempat berziarah karena terbatasnya waktu, beliau tetap menyarankan kalau ada waktu segera lah berziarah ke makam sahabat nabi Uqbah Bin Nafi”
Sejak itu, keinginan dan hasrat yang kuat selalu hadir dalam jiwa kami. Sebab, berziarah bagi saya khususnya selain untuk mengingat mati juga sangat bermakna untuk menata jiwa guna merenungi hakikat hidup dan bertauhid. Karena itulah, kami sangat menikmati refleksi-refleksi mendalam soal hakikat hidup dan kehidupan saat kami melakukan ziarah ke makam para sahabat dan auliya di manapun berada.
Alhamdulillah, rupanya keinginan mendalam itu dikabulkan oleh Allah. Dengan izin Allah, di sela-sela acara pertemuan bisnis dengan para pengusaha Biskra dan silaturahmi dengan Wali Biskra, kami bersama rombongan bisa berziarah dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang terkait dengan penyebaran Islam pertama kali di Aljazair.
pagi itu (28 Maret 2012) saya dan rombongan Pak Dubes Niam Salim bisa berziarah ke makam penyebar Islam pertama di Aljazair di daerah Biskra, sekitar 500 KM dari Kota Alger. Beliau adalah Sahabat Nabi Muhammad, Uqbah Bin Nafi’. Makamnya terletak di tengah-tengah Masjid yang dibangunnya ketika masa perjuangan dahulu. Sampai sekarang makam sahabat nabi ini banyak dikunjungi oleh para penziarah, tak hanya dari warga Aljazair, tetapi juga dari luar negeri.
Kedatangan kami pagi itu disambut imam utama masjid tersebut dan diantarkan keliling beberapa situs dan peninggalan kerajaan Turki Utsmani yang masih tersimpan. Sang imam yang kebetulan sedang sakit rela bangun dari tempat tidurnya karena mendengar ada penziarah dari Indonesia yang dimpimpin langsung oleh Pak Dubes. Setelah kami bersalaman, terasa sang imam memang ulama besar yang luar biasa. Meski sudah tua, tapi tetap semangat ketika bercerita soal perjuangan sahabt Uqbah Bin Nafi’.
Acara keliling-keliling melihat situs peninggalan berakhir setelah sang imam menunjukkan pintu masuk makam sang sahabat. Beliau langsung memimpin pembacaan doa kepada sahabat Uqbah yang kami Amini. Tak tau apakah karena dalamnya makna doa, atau karena yang perasaan yang lain, tiba-tiba air mata menetes deras sambil mengatan amin, amin, amin … Tangisan ini juga berlanjut saat kami membacakan tahlil di depan makam. Seolah komunikasi batin antara yang masih hidup dan meninggal telah menyatu dalam payungan tauhid kepada Allah.
Kami pun lalu melanjutkan ziarah dengan membaca tahlil sebagaimana biasanya orang-orang nahdliyin berziarah ke makam para nabi, sahabat, tabiin, auliya dan salafussholihin. Seusai doa kami bacakan, sang ulama yang juga imam akbar masjid Uqbah lalu menuntun kami untuk diceritai soal siapa sosok Uqbah Bin Nafi’. Menurut beliau, Uqbah adalah salah satu sahabat nabi yang datang bersama-sama sahabat nabi lainnya ke wilayah Aljazair untuk menyebarkan agama Allah.
Uqbah datang beberapa tahun setelah hijrahnya rasulullah ke Madinah. Dalam perjalananya, diceritakan bahwa Sahabat Uqbah selalu berhasil mengislamkan daerah-daerah yang disinggahinya. Termasuk daerah-daerah yang saat ini teridentifikasi sebagai Tunisia, Maroko dan Libya atau daerah Magribi. Namun dalam cerita sang imam, nasib sahabat Uqbah berakhir tragis karena dibunuh oleh kaum Barbar yang saat itu menjadi salah satu kekuatan utama di masyarakat Aljazair.
Singkat cerita, sang imam menjelaskan bahwa Sahabat Uqbah Bin Nafi’ setelah banyak menaklukkan beberapa daerah yang dikuasi Romawi, membuat markas di daerah Biskra sekarang ini. Sebanarnya, jika memungkinkan saat itu, beliau akan melanjutkan misi penyebaran Islam ini ke wilayah Eropa. Namun karena ada laut yang luas, dan tentu belum mendapat izin dari Allah, dia berhenti di Biskra.
“Demi Allah, andai tak ada laut yang menghalangi, Aku akan meneruskan perjalanan ini ke seberang sana untuk menyebarkan agamaMu dan mengangkat tingi namaMu, Allahu Akbar …,” kata Sahabat Uqbah sambil mengacungkan pedangnya ketika berada di pinggir pantai Mediterania, demikian cerita sang imam.
Nah, saat beristarahat itulah, datanglah utusan dari kaum Barbar yang mengakui telah berdamai dan siap hidup rukun. Oleh karena itu, dengan hormat mengundang Sahabat Uqbah dan pengikutnya dalam acara jamuan makam malam. Tanpa curiga, sahabat Uqbah memenuhi undangan itu. Namun kepercayaan itu dicederai dengan jebakan kaum Barbar yang telah diboncengi kekuatan Romawi untuk belas dendam.
Malam pesta yang harusnya berlangsung meriah dan penuh suka cita menjadi ajang pembantaian dan pembunuhan kaum muslimin saat itu. Lokasi perang dan pembantaian malam itu sampai sekarang masih di abadikan dan dibuatkan pagar pembatas oleh pemerintah Aljazair. Tempat itu dijadikan cagar budaya dan selalu dikunjungi oleh para penziarah dan turis yang ingin melihat langsung tempat perang besar pernah terjadi. wilayah itu sekitar 10 Km dari makam Uqbah saat ini.
Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa para pejuang dan syahid yang membela agama Allah. Dan menempatkan mereka di dalam surgaNya yang penuh magfiroh, dan kenikmatan. Amin, liqobuli du’aina, lahum Alfaatehah …
sumber: http://sosok.kompasiana.com/2012/04/17/tangisan-di-makam-sahabat-uqbah-bin-nafi/









Belum ada komentar untuk "Tangisan di Makam Sahabat Uqbah Bin Nafi’"
Posting Komentar