Blog Abu Zainal

Kumpulan Artikelnya Para Ustadz

Kata Ulama Tentang Lailatul Qodar

Lailatul Q A D A R
1. Malam yg jauh lebih utama dari malam NISHFU SYA`BAN. Sepatutnya kaum muslimin lebih semangat menghidupkannya dengan ibadah sesuai sunnah.
2. Malam yg lebih utama dari malam idul fitri, tidak ada tuntunan dari Rasulullah BEGADANG pada malam idul fitri. Yang justru disunnahkan begadang pada malam qadar.
3. Kalau BERBEDA penentuan masuk tanggal 1 ramadhan nya antara pemerintah dengan ORMAS, Maka menentukan malam qadarnya otomatis juga akan BEDA.
BEBERAPA KEKELIRUAB KAUM MUSLIMIN SEPUTAR LAILATUL QADAR
Oleh
Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman
Berikut ini, kami ketengahkan sebuah karya tulis perihal beberapa kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin berkaitan dengan Lailatul Qadar. Makalah yang ditulis oleh Syaikh Masyhur bin Hasan, kami terjemahkan dari Al-Ashalah, Edisi 3/15 Sya’ban 1413 H halaman 76-78. Semoga bermanfaat dan sebagai peringatan bagi kami serta segenap kaum muslimin. (Redaksi).
Kesalahan-kesalahan dan pelanggaranpelanggaran yang dilakukan oleh beberapa kaum muslimin dalam masalah puasa dan shalat tarawih sangat banyak; baik dalam masalah keyakinan, hukum atau perbuatan. Sebagian mengira, bahkan meyakini beberapa masalah yang bukan dari Islam, sebagai rukun Islam. Mereka mengambil sesuatu yang rendah (dalam urusan puasa dan lainnya), sebagai pengganti yang lebih baik, karena mengikuti orang-orang Yahudi. Padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang menyerupai mereka. Bahkan beliau menekankan serta menegaskan, agar (kaum Muslimin) menyelisihi mereka.
Diantara kesalahan ini, ada yang khusus berkaitan dengan lailatul qadar. Kesalahan ini kami bagi menjadi dua bagian.
Pertama : Salah Dalam Berpandangan Dan Berkeyakinan.
Diantaranya:
1. Keyakinan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu memiliki beberapa tanda yang dapat diraih oleh sebagian orang. Lalu orang-orang ini merangkai cerita-cerita khurafat dan khayal. Mereka mengaku melihat cahaya dari langit, atau mereka dibukakan pintu langit dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Ibnu Hajar, ketika beliau rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari 4/266, bahwa hikmah disembunyikannya lailatul qadar, ialah agar timbul kesungguh-sungguhan dalam mencarinya. Berbeda jika malam qadar tersebut ditentukan, maka kesungguhansungguhan hanya sebatas pada malam tertentu itu.
Kemudian Ibnu Hajar menukil riwayat dari Ath-Thabari rahimahullah, bahwa beliau rahimahullah memilih pendapat (yang menyatakan, pent.), semua tanda itu tidaklah harus terjadi. Dan diraihnya lailatul qadar itu tidak disyaratkan harus dengan melihat atau mendengar sesuatu.
Ath Thabari lalu mengatakan,”Dalam hal dirahasiakannya lailatul qadar, terdapat bukti kebohongan orang yang beranggapan, bahwa pada malam itu akan ada hal-hal yang dapat terlihat mata, apa yang tidak dapat terlihat pada seluruh malam yang lain. Jika pernyataan itu benar, tentu lailatul qadar itu akan tampak bagi setiap orang yang menghidupkan malam-malam selama setahun, utamanya malam-malam Ramadhan.”
2. Perkataan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu sudah diangkat (sudah tidak ada lagi, pent). Al Mutawalli, seorang tokoh madzhab Syafi’i dalam kitab At Tatimmah telah menceritakan, bahwa pernyataan itu berasal dari kaum Rafidhah (Syi’ah). Sementara Al Fakihani dalam Syarhul Umdah telah menceritakan, bahwasanya berasal dari madzhab Hanafiyah.
Demikian ini merupakan gambaran rusak dan kesalahan buruk, yang dilandasi oleh pemahaman keliru terhadap sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada dua orang yang saling mengutuk pada lailatul qadar,
أِنَّّها رُفِعتْ
"Sesungguhnya lailatul qadar itu sudah terangkat"
Pendalilan (kesimpulan) ini terbantah dari dua segi.
a. Para ulama mengatakan, yang dimaksud dengan kata “terangkat”, yaitu terangkat dari hatiku, sehingga aku lupa waktu pastinya; karena sibuk dengan dua orang yang bertengkar ini.
Dikatakan juga (maksud kata terangkat, pent.), yaitu terangkat barakahnya pada tahun itu. Dan maksudnya, bukanlah lailatul qadar itu diangkat sama sekali. Hal itu ditunjukkan oleh hadits yang dikeluarkan Imam Abdur Razaq rahimahullah dalam Mushannaf-nya 4/252, dari Abdullah bin Yahnus, dia berkata,”Aku berkata kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,‘Mereka menyangka, bahwa lailatul qadar itu sudah diangkat’,” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, "Orang yang mengatakan hal itu telah berbuat bohong."
b. Keumuman hadits yang mengandung dorongan untuk menghidupkan malam qadar dan penjelasan tentang keutamaannya.
Seperti hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dan lainnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَة القَدرِ أِعيمَا نًا واحتسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّّّمَ مِنْ ذَنْبهِ
"Barangsiapa yang shalat pada lailatul qadar karena iman dan karena mengharapkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat".
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah,bahwa lailatul qadar itu ada. Dan lailalatul qadar itu terlihat. Dapat dibuktikan oleh siapapun yang dikehendaki dari keturunan Adam, (pada) setiap tahun di bulan Ramadhan, sebagaimana telah jelas melalui hadits-hadits ini, dan melalui beritaberita dari orang shalih tentang lailatul qadar. Penglihatan orang-orang shalih tersebut tentang lailatul qadar tidak bisa dihitung.”
Saya (Syaikh Masyhur) mengatakan: Ya, kemungkinan diketahuinya lailatul qadar itu ada. Banyak tanda-tanda yang telah diberitahukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa lailatul qadar itu, adalah satu malam diantara malam-malam Ramadhan. Dan mungkin, demikian ini maksud perkataan Aisyah radhiyallahu a’nha pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dan beliau menshahihkannya,
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّّهِ أَرَأَيْت أِنْ عَلِمْتُ أَيَّّ لَيْلةُ الْقَدْر مَا أَقُو لُ فِيهَا
“Aku Katakan,”Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui (adanya) malam itu (sebagai) lailatul qadar, apa yang kuucapkan pada malam itu?”
Dalam hadits ini -sebagaimana dikatakan Imam Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar 3/303 terdapat bukti, kemungkinan lailatul qadar dapat diketahui dan (juga bukti, pent.) tentang tetap adanya malam itu.”
Az Zurqani rahimahullah mengatakan dalam syarah Muwaththa’ 2/491, "Barangsiapa yang menyangka, bahwa makna –yang terdapat pada hadits di atas, (yaitu) lailatul qadar sudah diangkat- yakni sudah tidak ada lagi, maka dia keliru. Kalau seandainya benar seperti itu, tentulah kaum muslimin tidak diperintahkan untuk mencarinya. Hal ini dikuatkan oleh kelanjutan hadits,
عَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكمْ
"Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent.) [1] menjadi lebih baik bagi kalian".
Karena dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, menyebabkan orang tertuntut untuk melaksanakan qiyamul lail selama satu bulan penuh. Hal ini berbeda jika pengetahuan tentang waktunya dapat diketahui secara jelas".
Kesimpulannya, lailatul qadar tetap ada sampai hari kiamat. Sekalipun penentuan tepatnya kejadian tersebut dirahasiakan, dalam arti, tetap tidak dapat menghilangkan kesamaran dan ketidakjelasan tentang waktunya.
Meskipun pendapat yang rajih (terkuat), bahwa lailatul qadar ada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan dalil-dalil menguatkan, bahwasanya dia adalah malam duapuluh tujuh, akan tetapi memastikannya dengan cara yang yakin merupakan perkara sulit. Allahu a’lam.
Kedua : Kesalahan-Kesalahan Dalam Amal Perbuatan Dan Tingkah Laku.
Kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia pada lailatul qadar itu banyak sekali. Hampir tidak ada yang bisa selamat, kecuali yang dipelihara Allah.
Diantaranya,
1. Mencari dan menyelidiki keberadaannya dan tersibukkan dengan mengintai tanda-tanda lailatul qadar, sehingga lalai beribadah ataupun berbuat taat pada malam itu.
Betapa banyak orang-orang yang shalat, kita lihat diantara mereka lupa membaca Al Qur’an, dzikr dan lupa mencari ilmu karena urusan ini. Engkau dapati salah seorang diantara mereka –menjelang terbitnya matahari memperhatikan matahari untuk mengetahui, apakah sinar matahari ini terik ataukah tidak? Mestinya, orang-orang ini memperhatikan pesan yang terdapat pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
عَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكمْ
"Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent.) menjadi lebih baik bagi kalian".
Dalam hadits ini terdapat isyarat, bahwa malam itu tidak ditentukan. Para ahli ilmu menarik kesimpulan dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu lebih baik. Mereka mengatakan, “Hikmah dalam hal itu, agar seorang hamba bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal pada tiap-tiap malam dengan harapan agar bertepatan dengan lailatul qadar. Berbeda jika lailatul qadar itu (telah) ditentukan. Maka, sungguh amal itu hanya akan diperbanyak (pada) satu malam saja, sehingga ia luput dari beribadah pada malam lainnya, atau berkurang. Bahkan sebagian ahli ilmu mengambil satu faidah dari sabda Nabi Shallallalhu ‘alaihi wa sallam tersebut, bahwa sebaiknya orang yang mengetahui lailatul qadar itu menyembunyikannya -berdasarkan dalil- bahwa Allah Azza wa Jalla telah mentaqdirkan kepada NabiNya Shallallahu ‘alaihi was allam untuk tidak memberitakan ketepatan waktunya. Sedangkan semua kebaikan ada pada apa yang telah ditaqdirkan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, merupakan sunnah untuk mengikuti beliau dalam hal ini.
Dari uraian di atas, dapat diketahui kekeliruan orang-orang dalam giatnya mereka shalat secara khusus, atau beribadah secara umum pada malam ke duapuluh tujuh, dengan memastikan atau seakan memastikan, bahwa malam itu adalah lailatul qadar, kemudian meninggalkan shalat dan tidak bersungguhsungguh berbuat taat pada malam-malam lainnya.
Persangkaannya, bahwa mereka hanya akan mendapatkan ganjaran ibadah lebih dari seribu bulan ketika menghidupkan malam ini (malam duapuluh tujuh, pent.) saja.
Kekeliruan ini membuat banyak orang melampaui batas dalam berbuat taat pada malam ini. Anda bisa lihat, diantara mereka ada yang tidak tidur, bahkan tidak henti-hentinya shalat dengan memaksakan diri tanpa tidur. Bahkan mungkin ada sebagian yang shalat, lalu memperlama shalatnya, sementara dia berjuang keras melawan kantuknya. Dan sungguh, kami pernah melihat diantara mereka ada yang tidur dalam sujud.
Dalam hal ini, satu sisi merupakan pelanggaran terhadap petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam yang melarang kita melakukan hal itu. Pada sisi lainnya, itu merupakan beban dan belenggu yang telah dihilangkan dari kita -berkat karunia dan nikmatNya Azza wa Jalla .
2. Diantara kesalahan sebagian kaum muslimin pada malam ini, yaitu sibuk mengatur acara, menyampaikan ceramah. Sebagian lagi sibuk dengan nasyid-nasyid dan nyanyian puji-pujian, sehingga lalai berbuatan taat. Anda bisa saksikan, ada orang yang begitu bersemangat, berkeliling ke masjid-masjid dengan menyampaikan berita terkini, serta bagaimana upaya pemecahannya. Itu dilakukan hingga menyebabkan pemanfaatan malam itu keluar dari apa yang dimaksudkan syari’at.
3. Diantara kekeliaruan mereka juga, yaitu mengkhususkan sebagian ibadah pada malam itu seperti shalat khusus lailatul qadar.
Sebagian lagi senantiasa mengerjakan shalat Tasbih secara berjama’ah tanpa hujjah. Sebagian lagi -pada malam ini- melaksanakan shalat hifzhul Qur’an, padahal tidak ada dasarnya.
Pelanggaran-pelanggaran dan kekeliruan yang berkaitan dengan lailatul qadar –yang dilakukan banyak kaum muslimin- sangat beragam dan banyak sekali. Kalau kita kumpulkan dan kita selidiki, maka tentu pembicaraan ini menjadi panjang. Apa yang kami sampaikan disini, baru sebagian kecil saja. (Insya Allah) bermanfaat bagi penuntut ilmu, pendamba kebenaran dan pencari al haq.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun V/1422/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
________
Footnote
[1]. Syarah shahih Muslim. Bab Fadlu Lailatul Qadar

https://www.facebook.com/ilham.tabrani.5/posts/648779958550143

DAKWAH TAUHID

DAKWAH YANG PERTAMA DAN UTAMA ADALAH DAKWAH TAUHID
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya untuk berdakwah di negeri Yaman:
إِنَّكَ تَأْتِيْ قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُم إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَفِيْ رِوَايَةِ: (إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ. فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ. فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ) أَخْرَجَاهُ.
“Sungguh, engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab maka hendaklah dakwah yang kamu sampaikan pertama kali kepada mereka ialah syahadat Lâ Ilâha Illallâh -dalam riwayat lain disebutkan, ‘(Ialah) supaya mereka menauhidkan Allah.’- Jika mereka mematuhimu dalam hal itu, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam kepada mereka. Jika mereka telah mematuhimu dalam hal itu, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat kepada mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka telah mematuhi dalam hal itu, jauhkanlah dirimu dari harta terbaik mereka, dan jagalah dirimu terhadap doa orang yang terzhalimi karena sesungguhnya tiada suatu tabir penghalang pun antara doanya dengan Allah.’.”
Dikeluarkan oleh keduanya (Al-Bukhâry dan Muslim).
Ketika mengutus Mu’âdz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu ke wilayah Yaman sebagai da’i yang mengajak kepada Allah dan sebagai pengajar, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menggariskan langkah-langkah yang harus Mu’âdz tempuh dalam dakwahnya. Beliau menjelaskan bahwa Mu’âdz akan menghadapi orang-orang yang berilmu dan pandai berdebat dari kalangan Yahudi dan Nashara, dengan maksud agar Mu’âdz berada dalam keadaan siap berdebat dan membantah syubhat-syubhat mereka, kemudian memulai dakwah dengan perkara terpenting lalu yang penting maka hendaknya yang pertama kali adalah menyeru manusia untuk memperbaiki aqidahnya karena aqidah merupakan pondasi. Kalau telah tunduk menerima hal tersebut, mereka diperintahkan untuk menegakkan shalat karena shalat merupakan kewajiban terbesar setelah bertauhid. Kalau mereka sudah menegakkan (shalat), orang-orang kaya (di antara mereka) diperintahkan untuk menyerahkan zakat hartanya kepada orang-orang faqir sebagai rasa kebersamaan dengan (orang-orang faqir) tersebut dan sebagai rasa syukur kepada Allah.
Kemudian beliau memperingatkan (Mu’âdz) tentang mengambil harta terbaik dalam zakat karena yang wajib adalah harta pertengahan. Setelah itu, Mu’âdz dianjurkan untuk berbuat adil dan meninggalkan kezhaliman supaya (Mu’âdz) tidak terkena doa orang yang terzhalimi karena doa tersebut akan Allah kabulkan.
Faedah Hadits
1. Disyariatkannya pengiriman para da’i untuk mengajak manusia kepada Allah.
2. Bahwa syahadat Lâ Ilâha Illallâh adalah kewajiban pertama dan yang diserukan pertama kali kepada manusia.
3.Bahwa makna syahadat Lâ Ilâha Illallâh adalah menauhidkan Allah dalam ibadah dan meninggalkan peribadahan kepada selain-Nya.
4. Seorang yang kafir tidaklah dihukumi sebagai seorang muslim, kecuali setelah ia mengucapkan syahadatain.
5. Bahwa seseorang kadang membaca dan mengilmui, tetapi tidak mengetahui makna Lâ Ilâha Illallâh. Atau, mengetahui makna (Lâ Ilâha Illallâh), tetapi tidak mengamalkan (kalimat) tersebut, seperti keadaan Ahli Kitab.
6. Bahwa orang yang diajak bicara dalam keadaan mengetahui tidaklah seperti orang jahil, sebagaimana dikatakan, “Sungguh, kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab.”
7.Peringatan terhadap manusia, khususnya para da’i, agar mereka betul-betul berada di atas bashirah tentang agamanya supaya terbebas dari syubhat para pembuat syubhat, yaitu dengan cara menuntut ilmu.
8.Shalat adalah kewajiban terbesar setelah syahadatain.
9.Bahwa zakat adalah rukun yang paling wajib setelah shalat.
10.Penjelasan tentang salah satu golongan penerima zakat, yaitu orang-orang faqir, dan pembolehan memberi zakat hanya kepada mereka.
11. Bahwasanya tidak boleh mengambil zakat berupa harta terbaik, kecuali dengan keridhaan pemilik (harta) tersebut.
12. Peringatan terhadap perbuatan zhalim, dan bahwa doa orang yang terzhalimi adalah mustajab, meskipun ia adalah pelaku maksiat.
[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]
Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS

https://www.facebook.com/dzulqarnainmsunusi/posts/667564153319905

APAKAH IMAM ABU MANSHUR AL MATURIDI TERMASUK AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH

Pertanyaan :
Assalamu ‘Alaikum WR. WB.
Semoga kesehatan selalu diberikan Allah swt kepada Buya ...
mohon penjelasan tentang Aqidah Asy'ariyah dan Maturidiyah ? mengapa kita harus memilih Imam Abul Hasan Al Asy'ariy ? apakah yang memilih Imam Maturidiy juga tergolong Ahlussunnah Waljama'ah ?

Jawaban :
Wa’alaikum Salam WR. WB.
Terimakasih atas doa yang saudara Muhammad Zainuddin sampaikan, semoga Allah swt memberikannya juga kepada antum.

“Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka”. (H.R. Tirmidzi)
Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru. Kemudian dua imam agung; Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya– datang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan ahli bid’ah lainnya.
Sehingga Ahlussunnah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenal dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu.
Adapun perbedaan yang terjadi di antara keduanya hanya pada sebagian masalah-masalah furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling menghujat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya lepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbedaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti halnya perselisihan yang terjadi antara para sahabat nabi, perihal apakah Rasulullah melihat Allah pada saat Mi’raj?.
Sebagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah r tidak melihat Tuhannya pada waktu Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn 'Abbas mengatakan bahwa Rasulullah r melihat Allah dengan hatinya. Allah member kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian al Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap sepaham dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah. Al-Hafizh- Murtadla az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:
“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (al-Ithaf, juz 2 hlm 6). Jadi aqidah yang benar dan diyakini oleh para ulama salaf yang shalih adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Karena sebenarnya keduanya hanyalah meringkas dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).

Wallahu a'lam bish-showaab.

http://www.buyayahya.org/artikel-dakwah/buya-menjawab/394-buya-yahya-menjawab-apakah-imam-abu-manshur-al-maturidi-termasuk-ahlu-sunnah-wal-jamaah.html

Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah

 Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah
Oleh : Ustadz Ibnu Yunus -hafizhahullah-
Berikut ini adalah nasehat yang indah serta faedah yang tak ternilai harganya yang disampaikan oleh Syaikh (Professor) Dr. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily, – Semoga Allah menjaga beliau – ,guru besar aqidah pada Universitas Islam Madinah, Kerajaan Saudi Arabia, yang disampaikan oleh beliau sebagai arahan dan nasehat bagi seluruh kaum muslimin dan secara khusus kepada para pemuda Ahlus Sunnah. Kami nukilkan dari buku tulisan beliau yang berjudul   
” النصيحة فيما يجب مراعاته عند الإختلاف و ضوابط هجر المخالف و الرد عليه
(Nasehat tentang perkara-perkara yang wajib untuk dijaga ketika terjadi perbedaan pendapat serta kaedah-kaedah dalam memboikot ahlul bidah dan membantah mereka ) , cetakan pertama, penerbit Daaru Al Imam Ahmad,1424 H/ 2003 M. Selamat menyimak dan semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita untuk dapat mengamalkan nasehat-nasehat indah tersebut,amin.

Berkata Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily – semoga Allah Ta’ala menjaga beliau- :
Aku menutup nasehat ini dengan beberapa arahan yang lembut serta faedah yang banyak yang menurut pendapatku dengan mengamalkannya (kita) akan mendapatkan pahala yang besar serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Aku mengajak saudara-saudaraku untuk mengamalkan dan menjaganya, secara khusus pada zaman-zaman sekarang ini. Zaman dimana fitnah merajalela, hawa nafsu memimpin, serta kejahilan yang menyebar di tengah-tengah manusia, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah dan petunjuk-Nya.
1. Ketahuilah, saudaraku Ahlus Sunnah, sesungguhnya jika engkau adalah seseorang yang senantiasa berkomitmen (berpegang teguh) kepada As Sunnah (Sunnah Rasulullah Shollallahu alaihi Wasallam) dengan benar , maka tidak akan memberikan mudhorat (kerusakan) kepadamu tipu daya penduduk bumi ini dan tidak akan mengeluarkanmu dari As Sunnah tuduhan mereka kepadamu  dengan bid’ah.
Namun jika engkau di atas penyimpangan dan kesesatan – Aku memohon perlindungan kepada Allah bagimu dari perkara tersebut-, maka tidak akan bermanfaat disisi Allah pujian manusia kepadamu dan penyandaran (penisbahan) dirimu kepada Sunnah serta pengagungan mereka terhadapmu dengan julukan-julukan (gelar) yang palsu.
Sesungguhnya Allah Maha Tahu akan keadaan (diri)mu apa yang engkau tahu ada pada dirimu sendiri. Maka berhati-hatilah dari menipu diri sendiri.
Dan cukuplah bagimu sebagai peringatan dari keadaan (seperti) itu wasiat Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas- Semoga Allah meridhoi beliau. (Dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzy (no. 2516) dan Imam Ahmad (no. 2669)). Dan hadits tentang tiga orang yang pertama kali api neraka akan
dinyalakan bagi mereka pada hari kiamat.(Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim (no. 1905)).
2. Ketahuilah, bahwa para ulama Ahlus Sunnah yang kokoh keilmuannya, mereka tidaklah mencapai apa yang telah mereka capai dari kedudukan yang tinggi dalam agama serta ketokohan kecuali dengan kesabaran dan keyakinan,bersama dengan taufik (hidayah) dari Allah Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”(QS As Sajadah :24).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – rahimahullah Ta’ala- berkata :
“Dengan kesabaran dan keyakinan akan diraih ketokohan dalam Agama.”
Dan keyakinan adalah kekuatan dalam ilmu yang dibangun di atas dalil yang shohih (kuat) dan pemahaman yang selamat. Bukan (seperti) apa yang diridhoi oleh sebahagian penuntut ilmu untuk dirinya yang mana mereka mencukupkan bagian mereka dari ilmu dengan taklid kepada seorang alim atau penuntut ilmu. Dan dengan klaim bahwa kebenaran hanya ada pada mereka dan bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang sunnah selain mereka.
Dan kesabaran adalah keteguhan dalam menuntut ilmu yang disertai dengan beramal dengannya dan menyibukkan waktu sepanjang malam dan siang dengan perkara tersebut. Berbeda dengan sebahagian orang yang lemah semangat (tekadnya) dalam perkara tersebut lalu ia memilih untuk bersantai dan justru nenyerahkan dirinya kepada syahwat hawa nafsunya. Tidak ada semangat untuk menuntut ilmu dan tidak ada pula semangat untuk beramal.
3. Ketahuilah, bahwa pengkafiran, pembidahan, dan penetapan kefasikan adalah wewenang (hak) Allah. Maka hati-hatilah dari mengkafirkan atau mebid’ahkan atau memvonis fasik seseorang yang tidak berhak mendapatkannya. Meskipun ia mengkafirkan engkau, membid’ahkanmu, atau memvonismu fasik. Karena sesungguhnya ahlussunnah tidak membalas kezholiman orang-orang yang menyelisihi mereka dengan kezoliman pula. Hanyalah hal ini merupakan ciri dan sifat ahlul bid’ah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
“Kelompok sempalan khawarij memvonis kafir ahlussunnah demikian pula dengan mu’tazilah, mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka. Demikian pula dengan golongan rafidhoh. Dan siapa yang tidak mereka kafirkan maka mereka memvonisnya dengan kefasikan. Adapun ahlussunnah maka mereka mengikuti kebenaran yang datang dari Rabb mereka yang telah dibawa oleh Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallam. (Namun) mereka tidak mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka dalam perkara tersebut. Justru mereka lebih mengetahui tentang kebenaran dan lebih menyayangi seluruh makhluk”. (Minhajus Sunnah 5/158)
4. Janganlah engkau memboikot saudara-saudaramu yang memboikotmu jika memboikotnya tidak disyari’atkan. Akan tetapi segeralah mendahuluinya dengan salam dan bersikap lembut kepadanya, serta hilangkanlah darinya syubhat (kesamaran) yang karenanya ia memboikotmu. Jika ia berpaling setelah itu maka janganlah engkau menyakini dengan hatimu pemboikotan terhadapnya dan jangan sibukkan dirimu untuk menggolong-golongkannya. Engkau telah lepas (bebas) dari dosa memutuskan silaturrahmi dan dialah yang mendapatkan hukuman (dosanya).
5. Celaan manusia terhadap dirimu, baik berupa celaan pada diri pribadimu , maupun dengan penyandaran kepada dirimu suatu kebatilan yang menyelisihi perkataan Ahlussunnah; maka apa yang merupakan celaan  pada diri pribadimu seperti perkataan orang yang menyelisihimu : “(engkau) Orang yang sesat, jahil (bodoh), tidak memahami”, maka janganlah engkau membela-bela dirimu. Sebab jika engkau melakukannya maka engkau akan terjerumus kedalam bentuk pensucian diri yang padanya terdapat kebinasaan yang nyata. Seseorang pernah mencela seorang tokoh terkemuka dari para salaf dengan suatu kalimat. Maka tokoh tersebut hanya menjawab : “Engkau tidak terlalu jauh”
Dan adalah ahlul bid’ah mensifatkan ulama ahlussunnah dengan tuduhan-tuduhan besar dan keji namun mereka (para ualama ahlus sunnah) tidak memperdulikan hal tersebut. Dan mereka (para ulama ahlussunnah) hanyalah membantah dalam apa yang mereka (ahlul bidah) terjerumus pada kesalahan dalam perkara agama dan memberikan nasehat kepada ummat. Maka bagi kita terdapat suri tauladan yang baik pada diri mereka (para ulama).
Adapun jika mereka menyandarkan kepadamu suatu perkataan batil misalnya dikatakan : “Si fulan berkata begini dan begitu” yang kemudian disandarkan kepadamu apa yang tidak engkau katakan maka tolaklah itu darimu agar tidak disandarkan kepadamu suatu kebatilan.
Dan senantiasa para ulama memberikan bantahan terhadap apa yang disandarkan kepada mereka dari perkataan-perkataan yang tidak mereka katakan. Dan ini bukanlah bentuk mensucikan diri sama sekali. Bahkan dari bentuk nasehat kepada ummat. Berbeda antara bentuk yang ini dengan bentuk yang sebelumnya. Maka berpegang teguhlah dengan petunjuk para ulama dalam perkara ini. Dan janganlah engkau seperti sebagian orang jahil yang jika dikritik dengan satu kalimat maka ia akan memenuhi dunia ini dengan pujian dan pengagungan terhadap dirinya. Semoga Allah melindungi kita dari kehinaan.
Dan yang terakhir,
Ketahuilah bahwa manusia menjadi besar dengan apa yang ada pada mereka dari amal (perbuatan). Maka jika engkau diatas sunnah maka engkau setiap hari akan menjadi besar dengannya. Dan tidaklah berlalu hari-hari hingga engkau (suatu saat) akan menjadi imam (tokoh) didalamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”(QS As Sajadah :24)
Dan jika engkau diatas bid’ah maka engkau setiap hari akan menjadi besar dengannya pula. Dan tidaklah berlalu hari-hari hingga engkau (suatu saat) akan menjadi imam (tokoh) didalamnya.
Allah berfirman :
“Katakanlah : “Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Allah yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya .”(QS Maryam : 75)
Dan Allah juga berfirman tentang Fir’aun dan kaum (pengikut)-nya setelah Allah mensifatkan mereka dengan sifat menyombongkan diri tidak pada tempatnya.
“Dan Kami menjadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka.”(QS Al Qashash : 41)
Maka pilihlah untuk dirimu dari amalan hari ini apa yang engkau harapkan  akan menjadi imam (tokoh) padanya di hari esok nanti.
Demikianlah dan hanya Allah yang Maha Tahu.
Semoga shalawat dan salam serta keberkahan tercurah kepada hamba Allah dan Rasul-Nya; Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ditulis oleh : Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili.    

Keterangan :
Kami membawakan materi pembahasan ini karena melihat betapa pentingnya nasehat yang beliau sampaikan ini bagi kita seluruhnya. Khususnya dalam menyikapi fenomena dan kenyataan yang terjadi dalam dakwah ahlus sunnah di Indonesia secara umum dan di wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya pada akhir-akhir ini. Padahal Syaikh Ibrahim telah menuliskan nasehat tersebut sejak tahun 1424 H / 2003 M. Ketenangan dalam dakwah serta semangat dan antusiasme dari kaum muslimin terhadap dakwah, merupakan ciri yang dikenal dan dirasakan oleh kaum muslimin secara umum dan dikalangan para masyaikh dan para penuntut ilmu yang datang ke wilayah ini secara khusus. Tentu saja ini semata adalah berkat taufik dan rahmat Allah Ta’ala, kemudian nasehat dan arahan para masyaikh serta kesabaran dari para asatidz –semoga Allah menjaga mereka seluruhnya – demikianlah persangkaan kami dan hanya Allah yang menghisab mereka. Dan tentu saja semua anugerah dari Allah tersebut haruslah senantiasa kita syukuri dan kita jaga. Maka harapan kami mudah-mudahan dengan mengamalkan nasehat-nasehat tersebut kita bisa menjaga nikmat berjalan di atas Sunnah dan nikmat ketenangan dalam dakwah di atasnya. Amin yaa Mujiibas saailin.
Sebagai tambahan ilmu bahwa Syaikh Rabi bin Hadi bin Umair Al Madkholy – semoga Allah Ta’ala menjaga beliau – menyebutkan dalam kitab beliau :
بيان لما في نصيحة إبراهيم الرحيلي من الخلل و الإخلال
Penjelasan terhadap apa yang terdapat pada kitab “Nasehat” karya Ibrohim  Ar ruhaily dari kekurangan dan pengabaian . Penerbit Miraatsun Nabawy,tahun 1433 H / 2012 M
Bahwa Syaikh Robi berkata :
“… Kemudian Dr. Ibrahim menutup nasehat-nasehat tersebut dengan wasiat-wasiat yang bagus (jayyidah). Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepadanya untuk mewujudkan nasehat tersebut dengan sebaik-baiknya. Dan agar Allah memberikan taufik kepadanya dalam mengambil sikap yang benar terhadap apa yang terkandung dalam nasehat beliau dari kesalahan-kesalahan ilmiah. “ selesai.
Dan sungguh benar ucapan Syaikh Rabi tersebut dan beliau sungguh telah menasehati. Dan sungguh kita semua layak dan sangat membutuhkan nasehat dari Syaikh Ibrahim tersebut untuk kita amalkan dalam kehidupan kita. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan ahlus sunnah wal jamaah di atas Kitabullahi Ta’ala Al Mubin dan Sunnah Rasulullah –Shallallahu alaihi wasallam – Al Amin .
Demikianlah, apa yang ada pada tulisan ini dari kebenaran maka sesungguhnya datangnya dari Allah jua. Dan apa yang salah dan keliru adalah dari diri kami dan dari syaitan, Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dan kami memohon ampun kepada Allah dan bertaubat hanya kepada-Nya.
و صلى الله على نبينا  محمد و على آله و صحبه و التابعين لهم بإحسان الى يوم الدين
Disusun dan diterjemahkan oleh  Abu Abdurrahman Ibnu Yunus -semoga Allah mengampuninya- di Bontomanai, Bontomarannu, Gowa, pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1435 H / 11 April 2014.
(DOWNLOAD PDF)

http://pesantren-alihsan.org/arahan-arahan-lembut-berhiaskan-faedah.html

Shadaqah Bukti Keimanan Kita

Shadaqah Bukti Keimanan Kita

Oleh: Abu Umar al Bankawy

Kehidupan seorang manusia akan berakhir pada kematian, dan setelah itu dia akan dibangkitkan di hari kiamat. Pada hari itu harta dan anak keturunannya tidak akan dapat memberinya manfaat. Yang bisa dia lakukan hanyalah melihat seberapa banyak kebaikan yang telah dia lakukan dan seberapa banyak dosa dan kejahatan yang dia lakukan.

Allah ta’ala berfirman,

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ * فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan amalan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS Al Zalzalah: 6-8)

Di antara kebaikan yang akan bermanfaat bagi seorang manusia kelak di akhirat adalah shadaqah yang dia berikan ketika dia hidup di dunia. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan barang-barang baik yang engkau semua nafkahkan itu adalah untuk dirimu sendiri dan engkau semua tidak menafkahkannya melainkan karena mengharapkan keridhaan Allah, juga barang-barang baik yang engkau semua nafkahkan itu, niscaya akan dibalas kepadamu dan tidaklah engkau semua dianiaya.” (al Baqarah: 272)

Shadaqah adalah Bukti Keimanan

Salah satu bukti keimanan seorang muslim adalah shadaqah. Ini ditunjukkan dalam hadits dari sahabat Al Harits bin Ashim Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمان ، والحَمدُ لله تَمْلأُ الميزَانَ ، وَسُبْحَانَ الله والحَمدُ لله تَملآن – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَينَ السَّماوات وَالأَرْضِ، والصَّلاةُ نُورٌ ، والصَّدقةُ بُرهَانٌ

“Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanallah walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, shalat adalah cahaya, dan shadaqah itu merupakan bukti.” (HR. Muslim)

Kenapa shadaqah disebut sebagai bukti keimanan? Hal ini karena harta adalah perkara yang dicintai oleh jiwa kita. Berat bagi diri kita untuk melepaskannya. Sehingga ketika seseorang merelakan hartanya tersebut di jalan Allah, maka ini adalah bukti yang menunjukkan kecintaannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka kita lihat sendiri, semakin tinggi keimanan seseorang, semakin banyak pula dia bershadaqah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling tinggi keimanannya. Beliau tidak pernah tanggung-tanggung dalam bershadaqah. Pernah beliau menyedekahkan kambing beliau. Apakah satu ekor, atau dua ekor saja? Tidak. Beliau bershadaqah dengan satu lembah kambing.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkisah,

وَلَقَدْ جَاءهُ رَجُلٌ ، فَأعْطَاهُ غَنَماً بَيْنَ جَبَلَيْنِ ، فَرجَعَ إِلَى قَوْمِهِ ، فَقَالَ : يَا قَوْمِ ، أسْلِمُوا فإِنَّ مُحَمَّداً يُعطِي عَطَاءَ مَن لا يَخْشَى الفَقْر ، وَإنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُريدُ إِلاَّ الدُّنْيَا ، فَمَا يَلْبَثُ إِلاَّ يَسِيراً حَتَّى يَكُونَ الإسْلاَمُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

Seorang lelaki datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi pun memberikannya kambing yang berjumlah satu lembah. Orang tersebut lalu kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad telah memberikan suatu pemberian, dia tidaklah khawatir akan miskin”. Orang itu masuk Islam karena menginginkan dunia namun begitu dia masuk Islam, Islam itu lebih dicintai dari dunia dan seisinya. (HR. Muslim)

Shadaqah Sebab Turunnya Keberkahan

Di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan di suatu tanah lapang, lalu ia mendengar suara dari dalam awan, “Siramlah kebun si Fulan itu!”

Kemudian menyingkirlah awan itu menuju ke tempat yang ditunjukkan, lalu menghabiskan airnya di atas tanah lapang berbatu hitam itu. Tiba-tiba sesuatu aliran air dari sekian banyak aliran airnya itu mengambil air hujan itu seluruhnya, kemudian orang tadi mengikuti aliran air tersebut….

Sekonyong-konyong tampaklah olehnya seorang lelaki yang berdiri di kebunnya mengalirkan air itu dengan alat keruknya.

Orang itu bertanya kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?”

Ia menjawab, “Namaku Fulan,” dan nama ini cocok dengan nama yang didengar olehnya di awan tadi.

Pemilik kebun bertanya, “Mengapa Anda menanyakan namaku?”

Orang itu menjawab, “Sesungguhnya saya tadi mendengar suatu suara di awan yang inilah air yang turun daripadanya. Suara itu berkata, ‘Siramlah kebun si Fulan itu!’ Nama itu sesuai benar dengan nama Anda. Sebenarnya apakah yang Anda lakukan?”

Pemilik kebun menjawab, “Adapun Anda menanyakan semacam ini, karena sesungguhnya saya selalu benar-benar memperhatikan hasil yang keluar dari kebun ini. Kemudian saya bershadaqah dengan sepertiganya, saya makan bersama keluarga saya yang sepertiganya dan saya kembalikan pada kebun ini yang sepertiganya pula (sebagai bibit).” (HR. Muslim)

Lihatlah betapa shadaqah telah menjadi sebab petani tersebut diberikan keberkahan oleh Allah ta’ala dengan menyedekahkan sepertiga dari hasil pertaniannya.

Harta Tidak Akan Berkurang Bila Dishadaqahkan

Sebagian orang mungkin mengira kalau ketika harta dishadaqahkan maka dia akan berkurang. Ini tidaklah benar. Di dalam sebuah hadits dari Abu Kabsyah Umar bin Sa’ad al Anmari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَال ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً ، وَمَا تَواضَعَ أحَدٌ لله إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ – عز وجل -

“Tidaklah shadaqah itu mengurangi banyaknya harta. Tidaklah Allah itu menambahkan pada diri seseorang sifat pemaaf, melainkan ia akan bertambah pula kemuliaannya. Juga tidaklah seorang itu merendahkan diri karena Allah, melainkan ia akan diangkat pula derajatnya oleh Allah ‘azza wajalla.” (HR. Muslim)

Harta yang dia shadaqahkan akan diganti oleh Allah ta’ala, sebaliknya bila dia menahan shadaqahnya maka Allah akan tahan pula curahan nikmat-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصبحُ العِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزلانِ ، فَيَقُولُ أحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقاً خَلَفاً ، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً

“Tiada seharipun yang sekalian hamba memulai paginya pada hari itu, melainkan ada dua malaikat yang turun. Seorang di antara keduanya itu berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menafkahkan itu akan gantinya,’ sedang yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan itu kerusakan pada hartanya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Asma’ binti Abu Bakar ash Shiddiq radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ. وفي رواية : أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

“Jangan engkau menyimpan apa-apa yang ada di tanganmu, sebab kalau demikian maka Allah akan menyimpan terhadap dirimu (rezeki akan ditahan oleh Allah –pent.) Dalam riwayat lain disebutkan, “Nafkahkanlah, atau berikanlah atau sebarkanlah dan jangan engkau menghitung-hitungnya, sebab kalau demikian maka Allah akan menghitung-hitung juga karunia yang akan diberikan padamu. Jangan pula engkau menahan (menunda-nunda) shadaqahmu, sebab kalau demikian maka Allah akan mencegah pemberian-Nya padamu.” (Muttafaq ‘alaih)

Demikian sedikit pembahasan tentang shadaqah dan keutamaannya. Sebenarnya masih banyak lagi keutamaan shadaqah, tapi kita cukupkan dengan apa yang telah disampaikan karena keterbatasan tempat. Dan terakhir, marilah kita semua senantiasa mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بشقِّ تَمْرَةٍ

“Takutlah kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan (bersedekah) potongan kurma.” (Muttafaq ‘alaih)

Semoga Allah ta’ala menjadikan diri kita gemar bershadaqah dan menjadikan shadaqah kita sebagai benteng kita dari azab-Nya yang pedih kelak di akhirat.

Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber:

- Syarah Riyadhis Shalihin, asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin

-http://www.salafy.or.id/2012/04/17/shadaqah-bukti-keimanan-kita

Tangisan di Makam Sahabat Uqbah Bin Nafi’


Sejak kedatanganku pertama kali di Aljazair, nama Sahabat Uqbah Bin Nafi’ selalu terngiang. Informasi ada makam sahabat nabi di negeri ini tak hanya kami dengar dari para lokal staf, tetapi juga dari para ulama NU yang pernah berkunjung ke negeri ini. Yang terakhir saat kunjungan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj pada 5 Maret lalu. Meski beliau tak sempat berziarah karena terbatasnya waktu, beliau tetap menyarankan kalau ada waktu segera lah berziarah ke makam sahabat nabi Uqbah Bin Nafi”

Sejak itu, keinginan dan hasrat yang kuat selalu hadir dalam jiwa kami. Sebab, berziarah bagi saya khususnya selain untuk mengingat mati juga sangat bermakna untuk menata jiwa guna merenungi hakikat hidup dan bertauhid. Karena itulah, kami sangat menikmati refleksi-refleksi mendalam soal hakikat hidup dan kehidupan saat kami melakukan ziarah ke makam para sahabat dan auliya di manapun berada.

Alhamdulillah, rupanya keinginan mendalam itu dikabulkan oleh Allah. Dengan izin Allah, di sela-sela acara pertemuan bisnis dengan para pengusaha Biskra dan silaturahmi dengan Wali Biskra, kami bersama rombongan bisa berziarah dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang terkait dengan penyebaran Islam pertama kali di Aljazair.

pagi itu (28 Maret 2012) saya dan rombongan Pak Dubes Niam Salim bisa berziarah ke makam penyebar Islam pertama di Aljazair di daerah Biskra, sekitar 500 KM dari Kota Alger. Beliau adalah Sahabat Nabi Muhammad, Uqbah Bin Nafi’. Makamnya terletak di tengah-tengah Masjid yang dibangunnya ketika masa perjuangan dahulu. Sampai sekarang makam sahabat nabi ini banyak dikunjungi oleh para penziarah, tak hanya dari warga Aljazair, tetapi juga dari luar negeri.

Kedatangan kami pagi itu disambut imam utama masjid tersebut dan diantarkan keliling beberapa situs dan peninggalan kerajaan Turki Utsmani yang masih tersimpan. Sang imam yang kebetulan sedang sakit rela bangun dari tempat tidurnya karena mendengar ada penziarah dari Indonesia yang dimpimpin langsung oleh Pak Dubes. Setelah kami bersalaman, terasa sang imam memang ulama besar yang luar biasa. Meski sudah tua, tapi tetap semangat ketika bercerita soal perjuangan sahabt Uqbah Bin Nafi’.

Acara keliling-keliling melihat situs peninggalan berakhir setelah sang imam menunjukkan pintu masuk makam sang sahabat. Beliau langsung memimpin pembacaan doa kepada sahabat Uqbah yang kami Amini. Tak tau apakah karena dalamnya makna doa, atau karena yang perasaan yang lain, tiba-tiba air mata menetes deras sambil mengatan amin, amin, amin … Tangisan ini juga berlanjut saat kami membacakan tahlil di depan makam. Seolah komunikasi batin antara yang masih hidup dan meninggal telah menyatu dalam payungan tauhid kepada Allah.

Kami pun lalu melanjutkan ziarah dengan membaca tahlil sebagaimana biasanya orang-orang nahdliyin berziarah ke makam para nabi, sahabat, tabiin, auliya dan salafussholihin. Seusai doa kami bacakan, sang ulama yang juga imam akbar masjid Uqbah lalu menuntun kami untuk diceritai soal siapa sosok Uqbah Bin Nafi’. Menurut beliau, Uqbah adalah salah satu sahabat nabi yang datang bersama-sama sahabat nabi lainnya ke wilayah Aljazair untuk menyebarkan agama Allah.

Uqbah datang beberapa tahun setelah hijrahnya rasulullah ke Madinah. Dalam perjalananya, diceritakan bahwa Sahabat Uqbah selalu berhasil mengislamkan daerah-daerah yang disinggahinya. Termasuk daerah-daerah yang saat ini teridentifikasi sebagai Tunisia, Maroko dan Libya atau daerah Magribi. Namun dalam cerita sang imam, nasib sahabat Uqbah berakhir tragis karena dibunuh oleh kaum Barbar yang saat itu menjadi salah satu kekuatan utama di masyarakat Aljazair.

Singkat cerita, sang imam menjelaskan bahwa Sahabat Uqbah Bin Nafi’ setelah banyak menaklukkan beberapa daerah yang dikuasi Romawi, membuat markas di daerah Biskra sekarang ini. Sebanarnya, jika memungkinkan saat itu, beliau akan melanjutkan misi penyebaran Islam ini ke wilayah Eropa. Namun karena ada laut yang luas, dan tentu belum mendapat izin dari Allah, dia berhenti di Biskra.

“Demi Allah, andai tak ada laut yang menghalangi, Aku akan meneruskan perjalanan ini ke seberang sana untuk menyebarkan agamaMu dan mengangkat tingi namaMu, Allahu Akbar …,” kata Sahabat Uqbah sambil mengacungkan pedangnya ketika berada di pinggir pantai Mediterania, demikian cerita sang imam.

Nah, saat beristarahat itulah, datanglah utusan dari kaum Barbar yang mengakui telah berdamai dan siap hidup rukun. Oleh karena itu, dengan hormat mengundang Sahabat Uqbah dan pengikutnya dalam acara jamuan makam malam. Tanpa curiga, sahabat Uqbah memenuhi undangan itu. Namun kepercayaan itu dicederai dengan jebakan kaum Barbar yang telah diboncengi kekuatan Romawi untuk belas dendam.

Malam pesta yang harusnya berlangsung meriah dan penuh suka cita menjadi ajang pembantaian dan pembunuhan kaum muslimin saat itu. Lokasi perang dan pembantaian malam itu sampai sekarang masih di abadikan dan dibuatkan pagar pembatas oleh pemerintah Aljazair. Tempat itu dijadikan cagar budaya dan selalu dikunjungi oleh para penziarah dan turis yang ingin melihat langsung tempat perang besar pernah terjadi. wilayah itu sekitar 10 Km dari makam Uqbah saat ini.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa para pejuang dan syahid yang membela agama Allah. Dan menempatkan mereka di dalam surgaNya yang penuh magfiroh, dan kenikmatan. Amin, liqobuli du’aina, lahum Alfaatehah …

sumber: http://sosok.kompasiana.com/2012/04/17/tangisan-di-makam-sahabat-uqbah-bin-nafi/